Press ← and → on your keyboard to move between
letters
Dear FutureMe,
Kempas, 28 Februari 2026
Hai, diriku dimasa depan
Bagaimana kabarmu? Ini aku, dirimu di masa lalu. Saat kamu menerima surat ini, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun telah berlalu. Aku menulis surat ini sebagai kompas, agar kau tak tersesat dan kembali pada dirimu yang dulu.
Detik ini, aku hanyalah seorang anak yang berkhayal bahwa suatu hari nanti aku bisa sekolah di negara impianku yaitu Spanyol. Namun saat ini aku terjebak, aku terjebak dalam amarah dan den***. Aku bahkan gagal mempercayai tak semua manusia itu munafik, tak semua manusia itu pengkhianat. Akan tetapi den*** lah yang membuat ku buta akan hal itu.
aku gagal untuk terus berdiri tanpa harus runtuh setiap malam. Apakah di masa depan mu, kamu masih sering menangis di tengah malam? Apakah beban yang kau pikul telah hilang? Kuharap saat kamu membaca surat ini, di sana kamu sudah bisa tersenyum dengan lebar tanpa beban dan amarah.
Pesan dariku Berbahagialah, tolong berbahagialah tanpa harus memikirkan perkataan orang-orang yang menghakimi mu. Jangan hidup dalam den*** dan amarah jangan biarkan mereka menguasai mu. Jadilah manusia yang lebih pemaaf dan kuat. Menangislah ketika kau memerlukannya karna itu adalah hak setiap manusia. Namun, jangan lagi menaruh den*** karena tangismu. Jangan ulangi kesalahan seperti yang aku lakukan, ya.
terimakasih telah berjuang, salam hangat dirimu di masalalu
Sign in to FutureMe
or use your email address
Create an account
or use your email address
FutureMe uses cookies, read how
Share this FutureMe letter
Copy the link to your clipboard:
Or share directly via social media:
Why is this inappropriate?