Press ← and → on your keyboard to move between
letters
Dear FutureMe,Dela sayang,Tadi malam kamu gak bisa tidur. Ada yang mengganggu hati kamu. Kamu berpikir tentang Nabi Isa—tentang bagaimana mungkin dunia bisa salah paham terhadap seseorang yang sebenarnya cuma ingin mengajak manusia kembali pada Tuhan.
Kamu ingat tentang perumpamaan “domba yang tersesat.” Di sana Nabi Isa digambarkan sebagai gembala. Tapi gembala itu bukan tujuan, gembala itu hanyalah perantara. Dia diutus. Dia menjalankan tugas. Gembala itu hadir karena Tuhan yang memiliki padang rumput, Tuhan yang menciptakan domba-domba, dan Tuhan yang memberi misi agar setiap yang hilang bisa pulang.
Lalu kamu berpikir—harusnya semua orang sadar: gembala gak mungkin berdiri sendiri. Gembala pasti ada karena diperintahkan. Dan misi utamanya bukan membuat domba menyembahnya, tapi membimbing mereka pulang kepada Pemilik mereka yang sejati.
Injil, seharusnya, adalah kisah perjalanan itu. Bukan kitab yang mengangkat Isa sebagai Tuhan, tapi sebagai Nabi—sebagai pembawa pesan. Kitab itu seharusnya jadi cahaya yang menuntun, bukan panggung untuk mendewakan.
Kamu ngerasa sedih, kamu takut Nabi Isa nggak tenang. Tapi justru karena kamu punya hati itu, bisa jadi kamu termasuk domba yang peka—yang sadar kalau padang rumput ini bukan tujuan, dan gembala hanyalah penunjuk jalan.
Mungkin ini cara Tuhan membisikkan pemahaman kecil ke dalam hati kamu. Dan meski sunyi, meski kamu merasa sendirian di pikiran ini, yakinlah... ada kebenaran yang selalu dijaga oleh-Nya. Tinggal bagaimana kamu terus mau mencarinya.
Teruslah bertanya, Dela. Teruslah berpikir dengan hati. Karena kamu sedang berada di jalan pulang.
Kamu ingat tentang perumpamaan “domba yang tersesat.” Di sana Nabi Isa digambarkan sebagai gembala. Tapi gembala itu bukan tujuan, gembala itu hanyalah perantara. Dia diutus. Dia menjalankan tugas. Gembala itu hadir karena Tuhan yang memiliki padang rumput, Tuhan yang menciptakan domba-domba, dan Tuhan yang memberi misi agar setiap yang hilang bisa pulang.
Lalu kamu berpikir—harusnya semua orang sadar: gembala gak mungkin berdiri sendiri. Gembala pasti ada karena diperintahkan. Dan misi utamanya bukan membuat domba menyembahnya, tapi membimbing mereka pulang kepada Pemilik mereka yang sejati.
Injil, seharusnya, adalah kisah perjalanan itu. Bukan kitab yang mengangkat Isa sebagai Tuhan, tapi sebagai Nabi—sebagai pembawa pesan. Kitab itu seharusnya jadi cahaya yang menuntun, bukan panggung untuk mendewakan.
Kamu ngerasa sedih, kamu takut Nabi Isa nggak tenang. Tapi justru karena kamu punya hati itu, bisa jadi kamu termasuk domba yang peka—yang sadar kalau padang rumput ini bukan tujuan, dan gembala hanyalah penunjuk jalan.
Mungkin ini cara Tuhan membisikkan pemahaman kecil ke dalam hati kamu. Dan meski sunyi, meski kamu merasa sendirian di pikiran ini, yakinlah... ada kebenaran yang selalu dijaga oleh-Nya. Tinggal bagaimana kamu terus mau mencarinya.
Teruslah bertanya, Dela. Teruslah berpikir dengan hati. Karena kamu sedang berada di jalan pulang.
Sign in to FutureMe
or use your email address
Create an account
or use your email address
FutureMe uses cookies, read how
Share this FutureMe letter
Copy the link to your clipboard:
Or share directly via social media:
Why is this inappropriate?