A letter from Mar 24th, 2022

Time Travelling — over 4 years

Peaceful right?

Dear Lebsiid Mar, Hai.. Senang banget rasanya kalau misalnya kamu masih bisa baca email ini. Nggak nyangka kalau Tuhan masih ngasih hidup samamu hingga pada saat kamu membaca email ini. Aku mau curhat tentang masa-masa yang kamu alami saat ini, masalah hidupmu yang menjadi jangkar yang selalu kamu seret-seret di kakimu setiap hari. Start: Tuhan, apakah engkau memang benar adanya? Aku menahan semua isi hatiku, tidak ada orang yang tepat yang baik untukku mencurahkan semua yang ada dalam benakku. Apabila malam tiba, aku takut. Imajinasiku semakin liar. Luka-luka masa lalu perlahan menghampiri dan membuat aku menyalahkan keadaan dengan menjadi-jadi. Aku bahkan dulu sempat punya mimpi. Dan aku ingat mimpi itu aku deklarasikan dengan teman satu kampungku dulu. Akhirnya kami saling menceritakan mimpi-mimpi itu. Ternyata tahun-tahun berjalan kami akhirnya saling bertanya kabar dan saling menayakan kekuatan mimpi itu. Aku marah dan jengkel terhadap temanku yang sudah menyerah dengan mimpinya. Dia bilang "Impian itu berubah-ubah, Mar. Nggak bisa dipertahanin karena keadaan yang tidak mendukung sama sekali". Akhirnya aku menganggap dia sebagai orang pengecut. Setelah hari, bulan dan tahun-tahun berjalan, kami tetap menjaga komunikasi layaknya seorang teman seperti dahulu kala. Ternyata aku menyadari satu hal, dan aku termakan omongan sendiri dan bahkan menganggap diri ku sebagai pengecut senior. Aku kembali flashback akan hidupku. Semua tidak berjalan dengan baik. Kacau, Kecewa, marah dan bahkan putus asa menghampiriku setiap malam. Aku bagaikan orang gagal dan orang mati yang kakinya masih terus berjalan. Aku bahkan sudah menyerah atas hidupku saat ini. Kalau bukan karena takut dosa dan kehidupan setelah kematian, aku udah lakuin bunuh diri itu sejak dari dulu. Dan saat ini sedang booming drakor dengan judul "twentyfive twentt two" yang berkisah tentang sekelompok anak muda yang mengejar mimpi mereka. Seketika aku merasa ******** dengan drama itu. Aku yang udah nyerah atas hidup, boro-boro mau gapai impian. Hidup yang ku jalani sekarang ini adalah hidup dengan pasrah, bukan berserah. Tadi aku nelpon dengan teman lama ku itu, dan kabarnya dia sakit dan dia minta doa ke aku supaya dia jangan di operasi dan kalau boleh sembuh total tanpa pengobatan. Dia khawatir akan biaya dan juga peluang hidup setelah menjalani operasi. Aku yang mendengar itu merasa jengkel pada Tuhan. Aku yang nggak butuh hidup lagi, malah temanku yang jatuh sakit diambang kematian yang notabene masih ingin melanjutkan hidupnya. Wkwkwkwkwkwkwkwk. Pecundang sejati emang seperti itu. Udah kala duluan dengan keadaan tanpa melihat bahwa ada orang lain yang membutuhkan kehidupan itu sendiri. Bahkan aku mengingat bahwa kemarin aku ikut interview kerja yang melamar jadi seorang admin, Maria dulu yang sangat obsesive dengan impian pasti ingin menjadi seorang leader dan menjadi orang yang sangat berguna. Aku ingat interviewer bertanya padaku "Kenapa kau mau melamar menjadi seorang admin? Umur mu masih muda". Perkataan itu menjadi pembunuh mental pecundangku. Aku yang sudah menganggap bahwa aku udah nggak punya impian yang penting asal hidup aja lah dari pada nyusahin orang tua dan masih minta-minta uang sama mereka. Aku udah bodo amat sama yang namanya impian. Tuhan nggak juga-juga manggil aku pulang dan mengakhiri hidupku dibumi ini. Jadi aku bagaikan layang-layang yang putus yang diterbangkan angin kemanapun juga. Terserah sama keadaanlah. Aku yang hidup ini, ya udah jalani aja. Atau kalaupun mati muda ya udah bersyukur juga. Aku sampai nggak bisa bilang apa-apa. Aku yang dalam benak masih ada peluang bermimpi sekitar 0.1 % sudah dipatahkan oleh keadaan, baik keuanganlah, umurlah, tanggung jawab sebagai anak pertamalah, rasanya udahlah, nyerah aja. Pengen dapat solusi dari keadaan ini dari psikolog tapi biaya yang ngaak ada. Ingin mencoba beriman, tapi kenyataan yang ada didepan mata membuat itu tidak mungkin. Aku masih bertanya-tanya sama Tuhan, kenapa harus sesakit ini sih?? Sebenarnya kalau dari kacamataku sendiri menganggap bahwa Tuhan juga sebenarnya udah capek atas sikap ku ini. Kayak anak kecil yang gak pernah bertumbuh dewasa dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Tapi Dia, masih tetap aja nunggu aku untuk pulang dan rasa sayangnya nggak pernah berkurang walaupun aku udah khianati berkali-kali, mempermainkan dia, mengolok-olok dia tapi lucunya aku merasa bahwa Ia dekat sekali denganku. Apa aku yang terlalu narsis kali ya? Apa itu cuma perasaanku aja kali ya? Hah, entahlah. Rasanya perjalananku selama 42 hari untuk mengetahui rencana Tuhan atas hidupku sepertinya sia-sia. Aku nggak juga mempraktekkannya, melakukannya, dan belajar dari semua yang sudah ku pelajari. Aku memang anak yang bebal, tapi Tuhan kenapa masih mau melanjutkan hidupku yang sebenarnya aku sendiri udah capek menjalaninya. Aku udah nggak kuat lagi. Dari dirimu saat berumur 24 tahun yang sudah putus asa dan tidak memiliki keingan hidup. RGTC, 24 Maret 2022 Salam, Lebsiid

Load more comments

Sign in to FutureMe

or use your email address

Don't know your password? Sign in with an email link instead.

By signing in to FutureMe you agree to the Terms of use.

Create an account

or use your email address

You will receive a confirmation email

By signing in to FutureMe you agree to the Terms of use.

Share this FutureMe letter

Copy the link to your clipboard:

Or share directly via social media:

Why is this inappropriate?