Press ← and → on your keyboard to move between
letters
Dear FutureMe, ini kamu ketik pada tanggal 15 Oktober 2020. Lalu kamu edit dan tersimpan mulai dari 30 Januari 2021.
Hari ini di malam hari tanggal 12 April 2021, kamu membaca ulang dan memilih untuk mengirimkannya ke dirimu yang terletak di masa depan. Tujuanmu sepertinya karena ingin membawa ini semua ke dirimu nanti. Takut lupa pikirmu.
Selamat membaca suratmu. Surat yang tak pernah sampai pada pemiliknya. Karena saat kamu menyadari dan memahami ini, pemiliknya dan kamu sudah tidak berada dalam bagian hidup yang sama. Semua berlalu sudah, semua menjadi cerita untukmu. Ini cerita dan ini juga bagian hidupmu. Ini surat, tapi lebih kepada perasaanmu yang menyimpan pemilik didalam versi diri dan membawanya bersama. Pemilik itu mereka. Kamu menamakan seperti seharusnya.
"Surat Untuk Mereka"
Saya pikir, bersyukurlah, karena ternyata kamu pernah menjadi sangat disenangi disalah satu fase kehidupanmu.
Saya juga pernah, saat itu saya masih SMA. Kelas 10-11 adalah fase tersibuk dalam hidup saya, sibuk dalam hal mengekspresikan. Kurang lebih 2 tahun itu adalah masa terbaik saya dalam hal berkarakter. Bagaimana lingkungan terhadap saya, dan ekspresi yang saya keluarkan sebagai respon. Ekspresi sikap, berpikir maupun ucapan dari saya. Saya pikir, saya pernah runyam saat itu, senang dan sedih yang tak punya tempat. Kalau dipikir, terimakasih pada mereka, untuk membuat saya tidak sempat memikirkan sepi dan sedih, tak sempat merasakan dan mendefinisikan seperti apa dua hal itu. Karena mereka maupun sikap mereka terhadap saya adalah ramai. Riuh untuk sekadar lewat sekilas pada ingatan saya. Terimakasih pada mereka untuk membuat saya merasa begitu, tak sempat saya luruh dan berlarut saat sedih sebelumnya menghampiri, dengan mereka segala di saya sibuk. Tak sedikit saya acuhkan dengan kasar. Yang sempat membuat ego mereka sakit, namun perlahan membaik. Perihal itupun, kalau dipikir sayalah yang memberi sedih itu. Sedang mereka, tidak begitu. Ah saya memang keras hati saat itu, menyianyiakan hal yang sempat saya sesali saat ini. Tapi begitulah selalu sesal terpahami, saat riuh telah sepi, ramai telah pergi. Terimakasih untuk membuat saya ada cerita pada masa itu, yang kalau tidak mereka alurkan, tidak pula saya menjadi bagian. Saksi hidup yang lebih mengingat cerita saya dari ingatan saya sendiri adalah versi terbaik dari sudut pandang yang layak diingat. Kalau saya mengetik ini dengan terimakasih dan dari luar kebiasaan saya memahami kejadian, maka mereka adalah sesal perihal sepi yang sangat saya pahami terlambat. Setelah mereka pergi. Bahwa pernah ada saya yang sempat lupa bersyukur. Saya lupa pernah diberi kesenangan dan tak dibiarkan sepi oleh keramaian. Saya yang memberi sedih pada yang bersama keramaian. Mereka memberi saya masa itu, tapi saya tak tau masa apa yang mereka punya setelah itu. Kalau mereka sudah menghabiskan semua pada masa itu, maka sama. Saya mengingat mereka kembali dengan layak. Dengan catatan yang terketik dan tertulis, dengan lisan, terimakasih untuk tau ada saya saat itu. Untuk membuat saya bersyukur pun terimakasih, untuk membantu saya memahami mereka pernah ada dengan menyenangkan dan saya memastikan sepi bagi saya adalah kelas 12. Mereka pergi, saya lulus SMA, Senang menepi, saya kembali memaknai sepi dan sedih. Dan salah satu yang terjelas adalah mereka. Versi terbaik ingatan cerita saya.
*PS : pertanyaan dari kamu di tahun 2021.
Kamu yang sekarang baca ini, ingat tidak tentang isi surat ini, tentang mereka?
Atau diganti pertanyaannya.
Bukan ingat tidak tapi masih ingat tidak?
Karena kamu di tahun 2021, terkadang masih suka mengingat mereka. Seringnya ditahun setelah mereka pergi sampai sebelum 2021.
Sign in to FutureMe
or use your email address
Create an account
or use your email address
FutureMe uses cookies, read how
Share this FutureMe letter
Copy the link to your clipboard:
Or share directly via social media:
Why is this inappropriate?