Hai. Happy New Year Eve!!!
Aku Sofie. Aku udah berencana untuk menulis surat ini sejak 6 November lalu, tetapi selalu urung karena malas. Lalu aku mulai bertekad akan tetap menulisnya sebelum tahun baru. Maka, di sinilah aku sekarang. Di malam yang seharusnya menjadi perayaan tahun baru, aku memutuskan untuk menemui diriku sendiri. Aku hendak mengulas semua yang terjadi sepanjang tahun. Aku ingin kamu, Sofie di tahun berikutnya membaca ini sembari mengenangnya dengan baik. Beberapa memori memang tidak selalu manis. Begitu pula yang nanti akan aku ceritakan. Aku harap saat membaca ini nanti, hatiku sudah cukup lapang untuk menerima baik buruk yang terjadi.
Sebelum mulai bercerita, aku ingin memastikan bagaimana situasimu sekarang. Gimana kabarnya, pi? How’s life? Is it getting better? Are you happy? Apakah tahun itu bisa kamu tutup dengan baik karena segalanya mulai membaik? Apa saja yang bakal menanti aku di depan? Apa kamu sudah totally merelakan Mas Achdan, pi? Sudahkah kamu memaafkan Nopal? Apa kamu udah lebih mindful dengan mengurangi ekspektasimu atas reaksi orang lain atas kepiluanmu sendiri? Aku harap semesta membawa banyak takdir baik untuk kita di sepanjang tahun ini. Aamiin.
Aku akan memulai cerita ini dari awal tahun di 2024. Aku ingat sekali bahwa tahun ini aku menghabiskan banyak sekali waktu untuk berkecimplung dalam mengkritisi pemerintah. Awal tahun adalah waktu di mana aku pertama kali begitu antusias untuk mengikuti perpolitikan Indonesia. Aku menonton semua debat capres dan cawapres, begitu pula debat netizen di sosial media. Aku turut serta berdebat dengan banyak 02 voters, termasuk Agis dan Endes. Aku berdebat secara real life sambil makan mie ayam. Aku juga berdebat dengan Teh Garnis (kocak anjir), Rina, Akmal, siapa lagi ya??? Aku secara aktif mendukung Anies dan mengolok-olok 02, awokwokwok. Seru. Untung saat itu aku ga lagi dekat sama siapa-siapa, jadi aku tidak memedulikan tanggapan seseorang ketika akan membuat story secara ugal-ugalan mengenai politik pada saat itu. Untung kita belum kenal ya waktu itu, Pal.
Seingatku, awal tahun adalah waktu di mana aku tidak benar-benar sedang menyukai siapapun. Karena saat itu aku menyadari bahwa sepertinya nomor whatsapp aku nggak di-save sama Mas Achdan, dia nggak pernah lihat atau bikin story sama sekali. Jadi perasaan aku ke Mas Achdan sedikit kering, seperti rambutnya. Ah, aku ingat sesuatu. Awal tahun lalu, tepatnya tanggal 1 Januari seharusnya aku meet up sama Adrian Ethy. Tapi dia tiba-tiba cancel karena mikir aku bakalan cancel (kocak lu Ethy). Lalu karena setelah itu tidak ada yang terjadi lagi, aku kemudian nggak memiliki perasaan pada siapa pun. Di waktu-waktu itu, aku selalu bilang bahwa aku menunggu momen di mana Mas Achdan sempro, karena dengan begitu aku bisa melihat apakah dia punya pacar atau tidak. Karena sekali pun LDR atau apa kek, semisal dia punya pacar, idealnya bakal ngucapin dan Mas Achdan bakal me-repost itu. Tapi dia nggak kunjung sempro ☹
Akhir Februari, Mas Achdan akhirnya sempro. Perasaan aku waktu itu sebenarnya udah jauh meredup. Karena apa yang bisa aku harapkan dari seseorang yang tidak pernah life update sama sekali dan aku tidak punya alasan lain untuk menghubungi dia lagi? Tapi, masalahnya adalah momen sempro ini menjadi hal yang selama ini aku tunggu. Aku benar-benar penasaran apakah dia punya pacar atau nggak. Dan aku pengen banget ngucapin ke dia. Jadi, sekalipun saat itu sebenarnya perasaanku ke Mas Achdan udah nggak sekuat sebelumnya, ketika pada akhirnya aku melihat dia sempro, aku merasa bahwa itu menjadi titik baliknya. Karena bayangkan berapa lama aku menunggu momen itu. Makanya saat itu terjadi, rasanya kayak … “ini lho momen yang sangat aku tunggu-tunggu itu”. Akhirnya secara berkesadaran aku memilih untuk menyukai dia lagi.
Aku ingat saat itu rasanya menyenangkan sekali. Untuk pertama kali, aku merasa bahwa chat itu berjalan dua arah. Dia bilang bahwa saat dia presentasi sempro lampunya mati, padahal waktu itu aku nggak bertanya. Lalu kamu ingat nggak hal paling menyenangkan yang terjadi saat itu apa? Dia bilang, “Anak semester 6 semangat ya magangnya.” AKU SENANG BANGET!!!!! Kalau bisa aku pacarin waktu itu juga, udah aku paksa buat jadi pacarku. Lalu pembahasan bergulir ketika aku bertanya apakah nomor aku nggak di-save, karena aku setiap bikin story untuk caper dia nggak pernah liat. Aku benar-benar bilang begitu. Dia bilang memang nggak pernah bikin story dan nge-mute semua orang karena lagi demotivasi skripsi. Lalu, dia tiba-tiba bilang lagi “bikin tuh akhirnya”, setelah bikin story di whatsapp. Aku waktu itu senang banget. Seolah dia ngasih tau dan mengonfirmasi bahwa nomorku memang di-save dengan dia sengaja bikin story itu. Geer.
Semua memori menyenangkan itu masih segar di kepalaku, padahal sudah jauh sekali. Barangkali aku memang selalu memiliki cukup tempat untuk mengingat hal-hal baik mengenainya. Sejak itu, aku mulai semakin aktif mencari cara untuk menghubunginya. Aku bertanya banyak hal. Aku berkali-kali menunjukkan perasaanku secara tersirat. Tapi memang nggak ada yang terjadi. Dia nggak tergugah sedikit pun untuk membalas perasaan aku. Sampai di suatu malam, ketika aku pikir aku hampir menyerah, aku mempertimbangkan untuk mengatakannya. Butuh waktu beberapa hari untuk aku meminta pendapat banyak orang mengenai keputusan besar itu. Hingga di suatu sore, aku benar-benar mengatakannya. Aku confess ke Mas Achdan.
Sesuai perkiraanku dan semua orang, dia memberi jawaban baik. Memang bukan “iya”, tetapi kata-kata itu dikemas dengan baik dan manis sehingga rasanya bukan seperti penolakan. Dia berkali-kali mengapresiasiku, keberanianku, perasaanku, semua upayaku. Di akhir semua itu, dia sempat bertanya aku mendapat inspirasi dari mana, apakah dari buku atau twitter. Aku kaget dia menyebutkan dua opsi itu. Lalu dia bilang, “kamu kan sukanya dua hal itu”. AT LEASTTTT, at least dia notice aku selama ini. Dan buatku itu cukup.
Sejak itu, kita nggak pernah berkontak lagi. Aku nggak pernah benar-benar berniat buat move on dari Mas Achdan, tapi ketika aku udah confess, memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan? Secara alamiah akhirnya aku semakin jauh dari dia. Kebetulannya, waktu itu mulai masuk persiapan KKN. Maka, dimulailah bab baru dari cerita ini.
KKN-ku seru. Jika dilihat dari kebiasaan, sepertinya aku sama sekali nggak cocok sama mereka. Sampai sekarang tiap mikir ke belakang aku selalu bingung, kok bisa ya aku akrab dan bergaul dengan baik sama mereka? Padahal kita nggak cocok sama sekali. Mereka bukan orang yang suka ngobrol, baik itu ngobrol serius atau ngobrol ringan. Padahal selama ini kriteria berteman dengan aku biasanya terlihat dari situ. Ketika rapat, ngobrol biasa, sesi deep talk, mereka jarang mengambil inisiatif untuk bicara di dalam forum. Bahkan di momen evaluasi ketika kita sebatas mengucapkan terima kasih ke satu sama lain pun mereka lebih banyak bilang “iya sama kayak si A”. Mungkin karena mereka lucu dan sama-sama receh jadinya aku merasa cocok-cocok aja. Padahal kayaknya kalau bukan karena KKN, aku bakal sulit bergaul dengan lingkungan seperti itu. Buktinya setelah KKN-nya selesai dan tiap ngumpul bareng, komunikasiku dengan mereka tiap ngumpul tuh agak … apa ya? Sulit sih menurutku. Apalagi sama Agung. Jujur aku sering capek tiap berinteraksi sama dia.
Oke, cukup dengan rangkuman KKN secara universal. Kita mulai masuk ke lingkup yang lebih sempit. Nopal. Aku nggak tau udah berapa kali menjelaskan situasi ini. Seratus? Bukan nggak mungkin. Long short story, sepertinya sejak awal aku memang udah ‘melihat’ Nopal dengan cara yang berbeda. Makanya ketika banyak hal kecil terjadi, aku mulai meromantisasi itu. Aku pikir benar-benar kamu orangnya, Pal. Aku nggak nyangka bahwa cerita ini akan menjadi lebih buruk daripada ini. Setiap aku mikir bahwa yang kamu lakukan jahat banget, aku jadi lupa kenapa aku pernah berdebar dan menceritakan kamu begitu banyak ke orang-orang. Kayak … ini beneran orang yang sama? Kok bisa dulu aku excited banget nyeritain kamu ke orang lain (aku terlalu gengsi untuk bilang suka)? Semua keraguan itu justru terasa lebih menyebalkan. Karena, bayangin dulu kamu tiap hari punya interaksi menyenangkan baik itu besar maupun kecil yang bikin kamu meromantisasi hal itu, lalu kamu tiap hari mulai berkomunikasi sampai selalu life update, kamu udah benar-benar mikir bahwa bisa jadi ini memang saatnya, bahwa memang dia orangnya. Tiba-tiba semua itu berhenti. Semakin lama, segalanya semakin memburuk, dan mau nggak mau aku jadi mempertanyakan apakah semua yang aku rasakan kemarin cuma ada di kepalaku aja? Apa semua hal-hal baik yang dulu aku romantisasi itu ternyata salah?
Hal terburuk yang bisa terjadi saat itu adalah aku menyadari bahwa persepsiku mengenai situasi itu memang salah. Bahwa segala hal-hal yang telah aku romantisasi hanya ada di kepalaku aja. Itu udah cukup menyakitkan, Pal. Bahwa aku memberi pemakluman konyol jika ternyata kamu berhenti menghubungi aku lagi karena kamu ingat mantan kamu, aku akan paham. Ternyata engga. Ternyata kamu punya pdkt-an baru. Aku benar-benar nggak habis pikir. Bahkan, seolah belum cukup buruk, kamu minta maaf dengan cara paling tai sedunia. Kamu bilang kasihan. Emang tai kucing dasar fans Gibran.
Aku kesal sekali karena you look so fine, Pal. Seolah nggak ada masalah yang terjadi. Seolah memang cuma aku yang menilai ini menyakitkan. Karena kamu tampak begitu oke (bukan dalam artian keren), sedangkan aku banyak sekali nangis. Aku masih ingat betapa menyakitkannya momen itu. Aku menghabiskan banyak waktu untuk bertanya apa yang salah, apa yang kurang, apa aku habis melakukan kesalahan yang bikin dia ilfeel, semua keraguan yang jadi bumerang untuk melukai diriku sendiri. BAYANGIN, ketika aku sibuk bertanya-tanya apa yang salah dan merutuki diriku sendiri, ternyata kamu lagi pdkt sama orang lain. Bayangin se-anjir apa situasi tersebut?
Sampai bulan lalu, aku masih sering merutuki dia. Aku berusaha keras untuk tidak peduli lagi, tapi rasanya masih selalu menyakitkan. Setiap kali mengingatnya, aku nggak pernah nggak merasa terluka. Tapi, ketika aku menulis ini sekarang, rasanya situasiku udah lebih baik. Emang sepertinya manusia selalu butuh hal yang lebih besar agar bisa menilai suatu hal itu dengan lebih sederhana. Sekarang aku udah nggak marah sama Nopal (hm … iyakah?). Ketika menulis ini dan menceritakannya lagi, rasanya emang menyebalkan, tapi hatiku nggak sakit lagi. Kayak … ya, semua itu terjadi. Menyakitkan, menyebalkan, layak untuk dirutuki, tapi itulah yang terjadi, dan nggak ada yang bisa aku lakukan. Life must go on, right?
Aku pikir cerita KKN ini udah hampir menemui akhirnya. Aku lupa ada satu part lagi yang perlu aku bahas. Fikri. WKWKWKWK, ANEH BANGET RASANYA. Okay. Mungkin ini akan jadi tulisan pertamaku mengenai dia. Karena aku nggak pernah mau membahas ini dengan orang lain, termasuk diriku sendiri, karena sejujurnya aku takut. Mungkin untuk yang satu ini, aku akan membahas detailnya. Karena seperti yang udah aku bilang tadi, ini pertama kali aku membahasnya. Jadi ini juga bisa jadi wadah untuk aku merekonstruksi segala yang terjadi.
Baik … kita mulai dari awal. Jauh sebelum KKN dimulai, sejak pertama aku liat profil dia di grup kelompok, aku udah agak berdebar. Cakep, menurutku. Tapi aku terlalu gengsi buat bilang itu ke orang lain. Makanya setiap nyeritain momen ini, aku bilang bahwa saat itu yang aku katakan adalah “mukanya rapi ya.” Dia nggak ikut first meet kumpul KKN, juga jarang ikut danusan. Jadi aku nggak pernah berinteraksi sama dia. Tapi anehnya persepsiku ke dia nggak negatif kayak persepsiku ke Nopal. Padahal mereka sama-sama nggak aktif. Aku ingat waktu itu aku pernah stalking dia sampai ke second account-nya, padahal waktu itu belum pernah ketemu.
Pertama kali dia ikut danusan, aku senang. WKWKWK ANJIRLAH PIIII. Sehabis danusan kita makan bareng di warmindo, dan aku ingat betapa jaimnya aku waktu itu. Momen aku menyadari bahwa sepertinya aku berdebar lebih keras adalah waktu rapat setelah bakti kampus. Kita banyak eye contact saat ketawa. Sampai beberapa hari pertama di posko, setiap kali makan aku masih jaim. Aku sampai mikir, ini mah bakal nggak nyaman kalau kayak gini terus. Ya bayangin misalnya makan di depan mas Achdan deh. Canggung dan pasti jaim. Udah mah aku memang nggak suka makan sama orang lain. Aku cukup banyak mengamati dia waktu itu. Sampai akhirnya … JENG JENG JENG … Reni cerita tentang semuanya. Bayangin baru dua hari, dan dia ceritanya ke aku????!!!! Jangan-jangan itu emang sebuah peringatan dari semesta.
Sejak itu, persepsiku mengenai dia hancur semua. Aku nggak pernah lagi melihat dia sebagai laki-laki. Itu adalah waktu-waktu di mana akhirnya aku mulai melihat Nopal dengan cara yang berbeda. Kebetulan juga Nopal lebih banyak bergaul sama anak perempuan, dibanding Fikri. Jadi aku merasa lebih terkoneksi dengan dia. Sampai KKN berakhir, aku baru sadar bahwa dia cukup sering menghubungi aku, bahkan untuk hal kecil. Awalnya aku nggak terlalu notice, karena aku (merasa) lagi dekat sama Nopal. Jadi aku nggak memperhatikan intensitasnya. Tapi yang aku sadari, setiap kumpul, aku emang lebih akrab sama dia ketimbang Nopal. Dia selalu ketawa tiap liat aku bereaksi atas apapun. Lucu, ceunah.
Ada jeda panjang ketika aku menulis ini. Aku jadi lupa apa point yang hendak aku sampaikan. Intinya, makin lama aku makin akrab sama dia. Yang pertama mungkin gara-gara jokes kami nyambung. Kalau sama Nopal mah engga. Fikri sering kirim-kirim reels lucu. Lalu mulai cerita-cerita. Ketika aku akhirnya nyeritain Nopal ke dia, di situ rasanya makin deket. Aku apa-apa ngadu ke dia. Tapi waktu itu aku masih punya persepsi negatif, gara-gara dia pernah cerita mengenai beberapa cewek, dan aku jadi tau bahwa sudut pandangnya dia tuh nggak cocok banget di aku. Red flag, menurutku. Makanya aku ceritain semuanya ke dia, karena pikirku emang karena aku nggak bakalan suka.
Ternyata … emang nggak. Tapi, ah, nggak taulah. Ada beberapa momen di mana aku berdebar, bahkan orang-orang di sekitarku mengindahkan itu. “Lho, emang fikri nggak suka ke maneh?” kata Lintang. Ibu juga berkali-kali mengingatkan aku buat hati-hati. Aku awalnya sangat yakin bahwa memang nggak. Tapi lama-lama aku jadi nggak terlalu yakin. Dan yang paling anjrit adalah momen ketika aku mulai ngerasain sesuatu yang nggak nyaman ketika aku liat dia main nyamperin temen SMP-nya yang naksir dia itu ke Semarang. Itu pertama kalinya aku jadi melihat kayaknya ada yang salah di sini. Kenapa aku sebel, anjir??? Kenapa aku marah liatnya?
Aku nggak suka dengan perasaan nggak nyaman itu, karena bikin aku menyadari sesuatu yang sangat aku hindari. YA LAGIAN, masa mau kejebak 2x??? dan sama anak kkn juga??? Setelah semua yang terjadi sama Nopal??? Anjritlah. Bukannya belajar dari kesalahan, malah lanjut part 2. Waktu itu, akhirnya aku sempat mengurangi intensitas menghubungi dia. Aku sadar kalau toxic trait aku adalah gampang banget bergantung sama orang lain. Dan waktu itu beneran aku apa-apa ngadu dan cerita ke dia. Aku nggak pengen kaya gitu lagi. Aku takut.
Apalagi menurutku, jujur, ini pertama kalinya aku mengatakan ini, Fikri tuh lebih buruk dari Nopal. Maksud aku, Nopal tuh meskipun kayak tai, tapi dia jelas. Dan dia nggak berusaha untuk bikin semua orang lain senang, cuma karena takut dibenci. Makanya dia berani banget cut off aku tanpa babibu. Emang tai kucing. Sedangkan Fikri tuh menurutku selalu pengen jadi ibu peri (bapak peri?). Dia nggak berani ambil tindakan sekecil apapun itu, karena menurut dia, dia takut melukai orang lain. Tapi menurutku sebenarnya bukan karena itu. Dia cuma nggak pengen kehilangan fans dan perhatian dari orang-orang yang suka sama dia. Karena tiap kali ada orang yang berhenti melakukannya, dia bakal mempertanyakan kenapa mereka berhenti dan memutuskan menjauhi dia, padahal jelas-jelas itu wajar. Maksud aku, apa yang bisa kamu harapkan ketika kamu ga bisa balas perasaan seseorang? Kamu berharap dia suka kamu selamanya? Ada di samping kamu dan selalu ngasih perhatian yang sama?
Hah … kok jadi marah-marah Kak …
Oke, mari lanjutkan. Sebenarnya bukan itu point yang ingin aku sampaikan. Tapi part itu juga memang ada benarnya. Long short story, aku denial dengan perasaan aku waktu itu, apa pun nama dan bentuknya. Gara-gara itu, terjadilah cerita Mas Achdan part 2. Eh, part 3 sih masuknya. Aku berusaha mencari alternatif lain untuk diromantisasi, ketika aku menyadari ada yang salah dari perasaanku. Mas Achdan adalah objek yang tepat untuk itu. Aku sejak awal nggak pernah benar-benar niat untuk melupakan dia. Karena aku juga nggak terikat dengan siapapun yang bikin aku harus mengosongkan hati untuk orang lain. Dan mungkin sebenarnya selama ini dia selalu ada di sana. Selalu ada tempat di mana Mas Achdan bersemayam di hati aku (edaaan). Akhirnya karena ada kondisi tersebut, aku memutuskan untuk menyukai dia lagi. Kebetulan aku punya banyak hal yang bisa ditanyakan untuk meromantisasi perasaanku.
Sejak itu, aku semakin rutin menghubungi Mas Achdan lagi. Awalnya aku nggak menyadari sejauh apa aku menghubungi dia. Ketika aku baca ulang chatnya, ternyata aku selalu menghubungi dia setiap bulan sejak September. Mulai dari bertanya mengenai alur pembagian DPS, review DPS, ngucapin pas dia wisuda, ngucapin ulang tahun, bertanya tentang skripsi, dan lain sebagainya. Bahkan, aku pernah impulsif menghubungi dia tanpa punya pertanyaan yang berarti. Lalu, aku dengan jujur bilang bahwa aku selalu impulsif ingin menghubungi dia saat stress skripsi. Seperti biasa, Mas Achdan tetap menjawabnya dengan baik. “Gapapa, wajar kok kalau stress skripsi tuh. Kalau ada yang bingung atau butuh bantuan, bilang aja.” GIMANA AKU NGGAK NAKSIR KALAU DIANYA BEGITU????
Ada beberapa moment di mana aku menyadari bahwa Mas Achdan sepertinya cukup mengenal aku. Memang nggak ada salahnya jadi orang yang oversharing di story whatsapp. Karena cukup sering upload mengenai banyak hal, dari isu penting sampai yang paling sepele, Mas Achdan kayaknya mulai mengenal aku, cara berpikir aku, opiniku terkait sesuatu. Aku menyadari itu ketika kami membahas mengenai judul skripsi aku. Dia bilang, “kamu pasti judulnya susah, ya?”. Kenapa dia bisa seyakin itu, ya? Aku mikir, kayaknya dia merasa bahwa dengan kepribadianku (yang aku perlihatkan di story selama ini) sepertinya akan membentuk perilaku seperti itu. Mungkin dia mengira, ah sofie tuh karakternya kayak gitu, pasti bakal milih judul yang susah. Aku senang, meski sepertinya itu cuma persepsiku aja.
Semakin lama, rasanya Mas Achdan udah benar-benar kembali ke tempat semula. Begitu pula perasaan aku ke dia. Seolah aku lupa bahwa sebelumnya pernah terdistraksi karena menyukai hal lain. Aku menyukai dia, lagi. Tapi, baik dulu atau sekarang, persepsiku ketika menyukai dia selalu sama. Aku menyadari bahwa cerita ini nggak akan membawa aku ke mana-mana. Maka dari itu, rasanya selalu ada yang mengganjal sekaligus mendorong aku untuk terus bersikap impulsif. Impulsif aja, tunjukin aja, toh dia nggak bakal pernah berbalik. Memang logika yang aneh. Tapi, kesadaran bahwa dia nggak akan pernah berbalik juga cukup mengganggu aku. Ada moment di mana aku nggak cukup excited untuk balas pesannya lagi.
Lalu, tiba-tiba, seperti hujan di tengah kemarau panjang, ketika bumi sedang kerontang-kerontangnya, kemustahilan itu datang. Dia nge-chat aku duluan. Sekali lagi, MAS ACHDAN NGE-CHAT AKU DULUAN. Padanan kata yang aneh dan nggak mungkin, tapi beneran terjadi. Bayangin, selama ini aku nggak pernah berani berharap hal itu akan terjadi. Aku cuma berani berharap setidaknya Mas Achdan akan reply storyku, dan seandainya dia begitu, maka buatku itu cukup. Aku akan berhenti penasaran. Aku akan sangat puas. Tapi, tiba-tiba dia melakukan hal yang lebih daripada yang aku mau. Dia bertanya tentang skripsi aku. AKHIRNYAAA, aku bisa bertukar peran. Aku bisa jadi sok pintar di depan dia. Aku bisa unjuk diri. Rasanya itu adalah hari terbaikku sepanjang tahun.
Di tengah semua euforia itu, ternyata Mas Achdan balasnya lamaaaa banget. Ada kayaknya chatku sampai dua hari nggak dibalas. Sedih …. Kebayang kan gimana excitednya aku waktu itu. Tapi tiba-tiba ternyata dia balasnya lama banget kayak nggak niat. Aku jadi ngerasa dibercandain. Marah banget. Masalahnya tuh sebelumnya aku nggak pernah sesenang ini karena Mas Achdan, eh ketika itu terjadi ujungnya malah kayak gitu. Padahal waktu itu aku udah nyiapin beberapa pertanyaan buat dia, tapi chatku malah nggak dibalas lagi. Dan tau nggak isi chat terakhirku apa? Karena dia muji jawabanku, aku jawab “wah dipuji kayak gini mah aku senangnya seminggu.” Itu aku masih excited banget, Ya Allah. Malah nggak dibales lagi. Parah banget.
Sedih ketika momen paling membahagiakan itu malah berubah jadi titik balik di mana aku sadar sepertinya aku memang udah harus berhenti. Rasanya aku udah terlalu jauh dalam menyukai dia. Aku lupa apakah sebelumnya aku pernah ngerasa secapek itu ketika menyukai dia. Selama ini perasaanku cuma satu arah. Aku menunggu dengan tangan kosong. Tapi ketika dia menghubungi aku duluan, aku benar-benar berpikir bahwa mungkin inilah saatnya. Mungkin akan ada hal baik yang datang bersama dia. Mungkin dia akan jadi sesuatu yang selalu aku harapkan. Akhirnya, aku nggak cuma menunggu dia dengan tangan kosong. Aku benar-benar berharap dia akan datang, karena dia yang ngasih aku harapan itu. Seharusnya dia nggak usah nge-chat aku duluan. Seharusnya aku nggak pernah ngerasain rasa senang sebesar itu, karena akhirnya aku jadi berharap banyak sama kamu, Mas.
Selama ini, aku selalu menyukai dia dengan persepsi yang sama. Dia orang baik, dia layak dapat cinta sebanyak ini. Makanya, sejauh apa pun aku pergi, aku bisa kembali dengan mudah karena persepsi itu. Tapi, baru-baru ini sebuah kesadaran baru menghampiri aku. Dia baik, tapi aku juga orang baik. Aku juga layak dapat cinta sebanyak yang aku beri; cinta yang sepadan; cinta yang berbalas. Dia baik, tapi dia nggak bisa memberi itu. Selama menyukai dia, aku nggak pernah merasa se-putus asa itu. Tapi di momen tersebut, aku sadar … udah waktunya aku harus berhenti.
Di tengah kepiluan itu, aku membayangkan bahwa bisa jadi semua konsep baik yang aku suka mengenai dia cuma the idea of him. Jangan-jangan aku cuma suka gambaran mengenai dia, bukan diri dia sesungguhnya. Dia jarang banget life update, aku juga nggak pernah liat dia di real life, yang bisa aku romantisasi adalah moment chat di mana pasti Mas Achdan akan menjawab aku dengan baik dan antusias. Akhirnya aku terlalu mengglorifikasi dia sebagai orang baik yang membalas pertanyaan-pertanyaan aku dengan antusias.
TAPIIII, ketika liat foto dia di storynya, aku sadar … bahwa aku benar-benar suka orang ini. Aku suka dia bukan cuma karena dia baik, bukan karena konsep-konsep itu. Aku menyukai dia, karena dia Mas Achdan. Aku suka liat dia senyum. Aku suka dia sebagai individu, sebagai manusia, sebagai Mas Achdan. Bahkan kalaupun dia bukan orang baik, kayaknya aku bakal tetap menyukai dia karena dia adalah Mas Achdan.
Seluruh perasaan ini, segala persepsiku, semua konsep-konsep itu, nggak akan bermakna kalau bukan kamu orangnya. Aku menyukai kamu begitu banyak, begitu besar, begitu bermakna. Aku sendiri cukup terkejut ngeliat bahwa aku bisa menyukai orang lain sebanyak ini. Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku benar-benar jatuh cinta sama seseorang. Dan aku senang karena kamulah orangnya. Aku senang karena aku menyukai kamu. Aku senang karena kamu adalah orang baik.
Dari tahun ke tahun resolusiku belakangan ini selalu sama. Aku ingin jatuh cinta; dengan cara yang benar, kepada orang yang tepat, di waktu yang tepat. Aku nggak tau apakah keseluruhan cerita ini sesuai dengan kriteria tersebut. Tapi sampai sekarang aku masih percaya bahwa aku memang menyukai kamu dengan cara yang benar. Di kepala aku, kamu adalah orang yang tepat. Kamu nggak harus menyukai aku balik untuk jadi orang yang tepat, Mas. Seluruh perasaan ini … ngasih aku banyak sekali pelajaran berharga. Aku nggak melebih-lebihkan ketika aku bilang kamu adalah role model aku. Ada part di mana kamu memang jadi salah satu alasan aku daftar asprak, sampai dua kali. Aku pengen menunjukkan yang terbaik buat kamu.
Seluruh perasaan baik itu, meski menyenangkan sekali, sepertinya harus diakhiri sekarang Mas. Bukan karena kamu nggak keren lagi. Kamu akan selalu jadi orang baik yang menyenangkan di dalam kepala aku. Tapi, ada waktu-waktu tertentu di mana idealnya seseorang menyadari kapan waktunya ia harus berhenti. Aku pikir, sekaranglah waktunya. Aku nggak akan mengulur waktu lagi, Mas Achdan. Aku selalu menyukai kamu; begitu besar, begitu banyak, begitu berarti. Kali ini aku ingin menghormati kamu sebagai manusia yang juga berhak dilepaskan. Aku sadar bahwa mungkin ada beberapa momen di mana cara aku menyukai kamu terasa menyesakkan untuk kamu. Maka, hal terakhir yang bisa aku lakukan sekarang adalah membebaskan kamu.
Aku menyukaimu sembari mengenal banyak kata cukup. Maka, ini waktu yang tepat untuk berkata cukup pada diriku sendiri. Aku akan menutup cerita mengenai kamu dengan lembar terakhir di tahun 2024 ini. Hal-hal baik yang datang bersama kamu akan aku ingat dengan baik. Sampai minggu lalu aku masih membuat pengharapan, seandainya dia memang bukan untuk aku, tolong buat aku ikhlas selapang-lapangnya, Ya Allah.
Aku akan buka tahun 2025 ini dengan hati yang lapang. Semoga banyak hal baik datang tahun ini. Semoga aku bisa mengikhlaskan Mas Achdan. Semoga orang yang tepat itu segera datang. Semoga Allah membawa aku ke tempat-tempat baik. Aamiin.
Big Love, Sofie Fortuna.
31 Desember 2024.
Sign in to FutureMe
or use your email address
Create an account
or use your email address
FutureMe uses cookies, read how
Share this FutureMe letter
Copy the link to your clipboard:
Or share directly via social media:
Why is this inappropriate?